Strategi Lulus & Sharing Session Mahasiswa Blended Learning

Bedah Strategi Lulus Tubel: Analisis Data Alumni dan Sharing Blended Learning

Selamat malam teman-teman. Terima kasih sudah bergabung di Zoom kita pada OTF hari ketiga malam ini. Sesuai dengan janji kemarin, pada persiapan Tubel kami sudah melakukan beberapa pengamatan kepada teman-teman alumni persiapan Tubel yang telah lulus.

Malam ini kita memiliki dua sesi utama. Pertama, kita akan melihat apa yang didapatkan dan dilakukan oleh alumni persiapan Tubel, mulai dari TPA, TBI, hingga tes kepribadian. Kita akan melihat profil TPA dan TBI salah satu alumni yang lulus itu seperti apa. Apakah nilainya selalu masuk top 10 atau top 20? Atau mungkin nilainya berawal dari bawah lalu naik perlahan hingga masuk top 100?

Kita juga akan melihat contoh Daftar Riwayat Hidup (DRH) yang diisi oleh alumni yang lulus. Apakah isinya sangat “wah” sampai mereka lulus, atau sebenarnya sesuatu yang masih bisa teman-teman persiapkan mulai dari sekarang? Dengan melihat contoh ini, teman-teman bisa mendapatkan inspirasi untuk menambah kurikulum atau CV selama setahun ke depan, sehingga saat mengisi DRH nanti tidak kosong. Selain itu, kita akan melihat cara menjawab wawancara dan bagaimana kurasi yang dilakukan oleh tim psikolog terhadap jawaban-jawaban tersebut.

Sesi kedua, kita kedatangan salah satu alumni Tubel yang sudah lulus dari program Blended Learning, yaitu Kak Riama. Kenapa kami mengundang yang sudah lulus? Karena mahasiswa Blended Learning biasanya belajar di luar jam kerja, yakni di atas jam 5 sore, sehingga sulit mengundang yang masih aktif. Teman-teman bisa bertanya sepuasnya tentang kehidupan mahasiswa Blended Learning.

Biasanya, ada dua tipe orang yang mengambil Blended Learning. Pertama, mereka yang oportunis; mereka tahu banyak orang ingin ke STAN (reguler), jadi mereka mengambil peluang yang sedikit peminatnya. Apalagi bagi teman-teman di jalur afirmasi, peluangnya makin besar karena saingannya sedikit. Kedua, mereka yang sudah nyaman dengan penempatan di homebase dan tidak ingin penempatan ulang. Kak Riama adalah contoh yang mempertahankan homebase.

Mari kita mulai dengan melihat lesson learned dari alumni persiapan Tubel.

Analisis Data Alumni: TPA dan TBI

Mari kita bedah statistik TPA dan TBI dari salah satu alumni yang lulus.

1. Hasil Try Out (TO) OTF Alumni ini mengikuti OTF sama seperti teman-teman, bedanya ini tahun lalu (2025). Dari TO OTF-nya, peringkatnya adalah 67 dari 410 peserta. Ini menunjukkan bahwa untuk lulus tidak serta merta harus peringkat teratas.

  • TBI (Tes Bahasa Inggris): Siswa tersebut berhasil menjawab 71% dengan benar. Dari 20 soal, ada 13 jawaban benar. Ini penguasaan sekitar 65%. Jadi, bagi teman-teman yang mengerjakan TBI dan bagian structure serta error recognition-nya mendapat nilai 11, 12, atau 13, itu sudah awal yang bagus.
  • Reading: Dia bisa menjawab 77%. Berdasarkan survei wawancara kami, teks reading di SPMB Tubel tidak terlalu panjang, biasanya 3 sampai 4 paragraf. Jika teman-teman terbiasa mengerjakan soal seperti itu, kalian sudah punya dasar yang cukup.
  • TPA (Tes Potensi Akademik): Nilainya adalah 71,67%. Jadi, kemampuan antara TBI dan TPA siswa ini bisa dibilang seimbang (balance).

2. Progres Nilai di TO Selanjutnya Setelah OTF, siswa ini mengikuti TO berikutnya. Peringkatnya memang naik, tapi karena pesertanya saat itu masih sedikit. Namun secara nilai, rata-ratanya turun dari 71 menjadi sekitar 68-69.

Poin pentingnya adalah: bahkan bagi mereka yang lulus sekalipun, nilai naik-turun itu biasa. Jika penurunannya tidak jomplang (misalnya dari penguasaan 71% tiba-tiba drastis ke 40%), itu masih wajar. Jika terjadi penurunan drastis, itu saatnya evaluasi. Dengan sistem IRT, teman-teman bisa tahu soal mana yang dijawab benar oleh banyak orang tapi kalian salah. Evaluasi diri apakah kurangnya di materi verbal, jarak kecepatan waktu, atau bangun ruang.

Pada TO berikutnya lagi, nilai TBI-nya naik drastis menjadi 81, namun TPA-nya turun, terutama di bagian numerikal, sedangkan figuralnya stabil. Ini menunjukkan siswa tersebut lebih menguasai TBI ketimbang TPA. Di TO puncak SPMB Tubel, nilainya naik lagi menjadi 79 untuk TBI dan 71 untuk TPA.

Kesimpulannya, progresnya tidak harus selalu “wah”. Nilai TPA dan TBI yang rata-rata pun tetap bisa mengantarkan pada kelulusan. Jangan jadikan nilai TO sebagai patokan mati yang membuat merasa tidak berpeluang. Sebagai catatan, soal standar reguler biasanya satu sampai dua tingkat di bawah tingkat kesulitan Tubel STAN. Jika bisa mengerjakan soal reguler, itu bagus sebagai pondasi, tapi jangan cepat puas.

Besok kita akan belajar TBI bersama saya. Saya akan ajarkan cara cepat melihat jebakan soal. Materi TBI tidak pernah bertambah, yang beda hanya jebakannya. Kita akan belajar melihat satu atau dua kata petunjuk untuk langsung tahu materinya dan cara mengerjakannya.

Analisis Data Alumni: TO Kepribadian

Untuk TO Kepribadian, soal biasanya dibagi dua: kalimat bernada positif dan kalimat bernada negatif.

  • Kalimat Positif: Contoh “Saya pribadi yang menyukai tantangan”. Jawaban paling tinggi nilainya biasanya “Sangat Sesuai” (rata kanan).
  • Kalimat Negatif: Contoh “Saya tidak ingin diganggu pekerjaan saat bersama keluarga”. Ini bisa debatable. Jika teman-teman menganggap kerja demi negara dan harus berkorban, mungkin pilih rata kanan. Jika menganggap waktu keluarga sakral, pilih rata kiri. Nanti akan ada fasilitator psikolog yang menjelaskan apakah kalimat tersebut bernada positif, negatif, atau tergantung konteks.

Dari data alumni ini:

  • TO Kepribadian OTF: Peringkat 113, nilai 928 (dari total soal 191, skala 1-7).
  • TO Kepribadian Pertama: Naik menjadi 983.
  • TO Puncak: 981.

Nilainya konsisten di angka 900-an. Hati-hati, jangan sampai nilainya terlalu jomplang (misalnya TO 1 dapat 800, TO 2 dapat 900, TO 3 dapat 1000). Menurut psikolog, jika nilai jomplang, artinya teman-teman masih dalam posisi mencari jati diri atau citra yang ingin ditampilkan. Disarankan dari 12 paket soal nanti, nilainya berada di rentang yang mirip. Itu menandakan teman-teman sudah menemukan “citra” yang ingin disampaikan kepada panitia secara alam bawah sadar.

Apakah ini disebut fake atau tidak? Silakan ditanyakan ke psikolog nanti, karena kami tidak punya kapasitas menilai kejujuran seseorang. Tipsnya: pastikan nilai tidak terlalu jomplang.

Analisis Data Alumni: Tes Pauli (Koran)

Alumni yang lulus ini mengerjakan hampir seluruh paket Pauli, meskipun ada beberapa yang terlewat. Pauli adalah tentang kebiasaan, jadi bisa dicicil.

Mari kita bahas cara membaca grafik Pauli. Ada daerah hijau (atas) dan merah (bawah). Setiap 3 menit, pengawas akan bilang “Garis”. Garis ini menandakan satu bar atau kolom pengerjaan.

  • Angka 1, 2, 3 (Bar/Kolom): Menunjukkan jumlah soal yang dikerjakan per 3 menit.
  • Hijau (Total Soal): Contoh pada bar 1, total soal 135. Bar 1 sampai 6 pada grafik siswa ini adalah contoh yang ideal (stabil).
  • Merah (Kesalahan): Menunjukkan jumlah salah. Grafik siswa ini di awal menunjukkan kesalahan yang lumayan tinggi menurut psikolog.
  • Konsistensi & Fokus: Pauli menguji fokus (jangan sampai salah) dan daya tahan. Bukan sekadar banyak-banyakan. Contoh di bar ke-5 siswa ini stabil, tapi di bar ke-7 dia seperti hilang fokus (grafik turun). Ini tanda kelelahan atau drop.

Strategi Pauli: Jangan menargetkan jumlah angka (misal: “saya harus dapat 100 baris”). Strategi seperti “menargetkan 295 lalu naik ke 100” sulit diterapkan saat ujian karena faktor gugup dan lupa hitungan. Strategi terbaik adalah kerjakan dengan kecepatan yang stabil (konsisten). Bayangkan seperti lari maraton, jangan sprint di awal lalu drop di akhir. Simpan tenaga, jaga ritme.

Grafik ideal adalah stabil di awal (nomor 1-5), lalu naik perlahan mendekati akhir tanpa menambah kesalahan. Grafik yang turun di ujung (seperti nomor 10-11) itu wajar karena waktu habis atau soal habis. Ingat: Hijau adalah fokus/konsistensi, Merah adalah akurasi. Kalian tidak harus mengerjakan semuanya selesai untuk lulus, yang penting akurasi dan konsistensi.

Analisis Data Alumni: Daftar Riwayat Hidup (DRH)

Salah satu fasilitas persiapan Tubel adalah analisis DRH. Kami memberikan format DRH yang sesungguhnya (sampai poin 17 sesuai SPMB, poin 18-19 tambahan untuk penilaian kami).

Tips Mengisi DRH:

  1. Riwayat Pendidikan: Cukup dari Kuliah, SMA, SMP, SD. Tidak perlu sampai TK.
  2. Riwayat Pekerjaan: Jika hanya pernah di satu kantor, bagaimana caranya supaya terlihat banyak?
    • Jika pernah pindah seksi, itu dihitung riwayat pekerjaan.
    • Gunakan grading. Misalnya 2C grade 6 dengan 2C grade 7 itu nama jabatannya beda (contoh: Penyedia Dokumen Tingkat I vs Tingkat II). Masukkan sebagai riwayat berbeda. Maksimal 3 riwayat sudah cukup.
  3. Pengalaman Organisasi/Bekerja:
    • Jangan meremehkan peran kecil. Menjadi anggota tim ZI-WBK, Tim Ceria, atau panitia Kemenkeu Mengajar itu bisa dimasukkan.
    • Contoh alumni ini: “Anggota tim pembuatan buku profil kantor”. Walaupun cuma softcopy, itu peran nyata.
    • Jika belum punya pengalaman, tahun ini coba aktif. Minta jadi anggota sub-tim tertentu agar tahun depan ada yang ditulis di CV.
  4. Kelebihan dan Kekurangan:
    • Harus ada bukti. Jangan hanya klaim “Saya mampu bekerja di bawah tekanan”. Buktikan!
    • Contoh perbaikan: “Kemampuan saya bekerja di bawah tekanan terbukti saat menjadi anggota sub-tim manajemen pada kegiatan X, di mana saya harus…”
    • Tim psikolog kami akan mengurasi jawaban teman-teman, memberikan rekomendasi perbaikan kalimat agar terlihat bernilai di mata pewawancara.

Sharing Session: Blended Learning bersama Kak Riama

Sekarang kita masuk ke sesi bersama Kak Riama, alumni D3 Blended Learning (BL) tahun 2023 dari DJP.

Alasan Memilih Blended Learning:

  1. Tidak Penempatan Ulang: Ini alasan utama, terutama bagi yang sudah nyaman di homebase dan sudah berkeluarga.
  2. Full THP: Menerima gaji dan tunjangan penuh.
  3. Biaya Lebih Hemat: Terutama bagi yang di Jabodetabek atau yang ingin menabung lebih banyak karena akomodasi ke kampus lebih sedikit.
  4. Peluang Lulus Lebih Besar: Peminatnya lebih sedikit. Di tahun 2023, pendaftar BL non-afirmasi sekitar 20-an untuk kuota 10 orang. Jalur afirmasi bahkan pendaftarnya hanya 3 orang dan semuanya lulus.
  5. Akses Data & Networking: Bisa diskusi langsung dengan rekan kerja (AR, Pemeriksa) saat mengerjakan tugas atau Tugas Akhir (TA), serta lebih mudah minta data kantor.

Metode Belajar BL:

  • Sinkronus (Tatap Muka via Zoom): Biasanya sore hari sepulang kerja.
  • Asinkronus (Belajar Mandiri): Penugasan via LMS (Learning Management System) dengan deadline tertentu.
  • Off-Campus: Kuliah Senin-Jumat dari kantor/rumah. Ada Surat Tugas (ST) sehingga jam 15.00 harus sudah bebas tugas untuk kuliah.
  • On-Campus: Dilaksanakan setelah UTS selama sekitar 6-8 minggu. Selama on-campus, statusnya tugas belajar penuh (ada ST), jadi fokus kuliah dan tidak bekerja.

Manajemen Waktu dan Tantangan: Tantangan terbesar adalah membagi waktu antara kerja, kuliah, dan kehidupan pribadi. Satu dua minggu pertama pasti shock badan, sering sakit karena bangun pagi kerja, sore kuliah sampai malam, lalu mengerjakan PR. Kuncinya adalah time management. Teman-teman sekelas biasanya saling mengingatkan deadline tugas.

Apakah masih bisa menikmati hidup? Masih. Banyak teman yang sudah berkeluarga, bahkan ada yang hamil dan melahirkan saat BL, atau persiapan nikah. Dosen biasanya cukup pengertian jika kita izin sakit atau harus zoom di jalan (misal di mobil saat pulang kantor).

Suka Duka BL:

  • Suka: Nambah teman baru yang solid, hemat biaya, kuliah fleksibel, dan materi ujian seringkali ada project atau makalah (bukan hanya ujian tulis).
  • Duka: Terasa lebih capek daripada reguler karena beban ganda (kerja + kuliah). Tugas terasa lebih banyak karena dosen ingin memastikan pemahaman via Zoom. Kadang kebijakan kampus kurang memihak, misal syarat SKPM (poin keaktifan) yang disamakan dengan reguler padahal anak BL sulit ikut kepanitiaan kampus.
  • Keuangan: Dulu (angkatan Kak Riama) saat on-campus sempat bisa klaim SPD (biaya perjalanan, penginapan 2 hari, uang harian). Namun, karena kebijakan efisiensi, kabar terakhir fasilitas ini ditiadakan atau dikurangi. Kita berdoa saja semoga tahun depan efisiensi dicabut.

Q&A dengan Kak Riama:

  • Apakah boleh cuti saat Tubel BL? Boleh, karena statusnya masih pegawai unit kerja (saat off-campus). Hak cuti tahunan, sakit, bahkan cuti melahirkan tetap ada dari kantor. Namun dari kampus tidak ada cuti, opsinya adalah penundaan kuliah (cuti akademik) ke semester/tahun berikutnya. Tapi karena BL waktunya singkat (1,5 tahun), sayang jika menunda.
  • Apakah soal ujian BL lebih susah? Secara garis besar sama. Untuk UTS kadang ada beda metode (paper vs tulis), tapi tingkat kesulitannya mirip. Untuk UAS karena semua on-campus, soalnya pasti sama dengan reguler.
  • Bagaimana jadwal On/Off Campus? Biasanya off-campus sampai UTS, dan on-campus setelah UTS sampai UAS. Jadwal pastinya akan ada di Kalender Akademik.
  • Apakah benar tidak ada penempatan ulang? Untuk DJP, sejauh ini benar tidak ada penempatan ulang. Namun untuk instansi lain seperti DJPB, peserta BL justru ditempatkan (mutasi) ke Jakarta untuk memudahkan akses ke kampus. Jadi ini bisa jadi strategi bagi yang ingin pindah ke Jakarta.
  • Bagaimana jika atasan tidak support? Mayoritas mendukung. Jika ada yang toxic atau menyindir, kuncinya “masa bodoh” dan fokus pada tujuan. Cari support system dari teman sekelas. Ingat, ini untuk masa depan karier kita sendiri.

Pesan Terakhir Kak Riama: Bagi yang masih ragu, coba saja. Jangan takut soal nilai atau persaingan. Peluang BL, terutama afirmasi, cukup besar. Usahakan semaksimal mungkin, atur strategi, dan jangan lupa berdoa serta minta restu orang tua. Jika dijalani, pasti bisa.


Terima kasih kepada Kak Riama atas sharing-nya. Semoga informasi ini memantapkan teman-teman dalam memilih jalur, apakah Reguler atau Blended Learning. Ingat, apapun pilihannya, pastikan itu yang terbaik dan persiapkan diri semaksimal mungkin. Sampai jumpa di sesi berikutnya!