Adjective Clause

Tips Belajar Efektif ala “Make It Stick” dan Kupas Tuntas Materi Adjective Clause untuk TBI

Selamat sore, Teman-teman.

Sebelum kita masuk ke materi inti pada sore hari ini, izin saya menyampaikan dua informasi penting terlebih dahulu.

Pertama, mengenai jadwal minggu depan. Direncanakan pada hari Sabtu depan, kita akan mengunggah video dan slide pembelajaran serta latihan soal baru, yaitu TBI Pemantapan. Jadi, minggu depan materi TBI Pemantapan akan naik tayang.

Kalau di materi TBI yang sekarang sudah ada, teman-teman bisa melihat materi-materinya dipecah sampai bagian terkecil. Misalnya materi Present, itu dipecah bukan hanya Present saja, tapi ada Simple Present, Continuous, dan sebagainya. Nah, nanti di video dan slide soal latihan pemantapan, materinya tidak lagi dipecah per bagian tenses, tetapi sudah digabung berdasarkan Present, Past, dan Future. Nanti untuk materi Passive Voice juga akan dibuat seperti itu.

Intinya, minggu depan hari Sabtu direncanakan TBI slide, video, dan soal pemantapan akan naik tayang. Kami juga usahakan minggu depan atau setidaknya minggu depannya lagi untuk materi TPA Pemantapan. Jadi, di bulan ini teman-teman akan mendapatkan update dari slide, video, serta latihan soal pemantapan di website. Materi ini berbeda dengan yang sebelumnya karena slide-nya dibuat baru menyesuaikan bobot materi. Kalau kemarin mungkin videonya hanya Simple Present dan terasa terlalu pendek, nanti sudah ada versi yang lebih lengkap per sub-bab.

Mengapa Sudah Belajar Keras Tapi Masih Gagal?

Informasi kedua, ini berkaitan dengan curhatan salah satu siswa beberapa minggu lalu. Ada yang bertanya, “Kak, tahun lalu aku sudah pernah ikut Tubel tapi masih belum berhasil. Menurutku pribadi, aku sudah belajar keras, sudah baca buku, mengerjakan soal, tapi kenapa ya pada saat ujian aku tidak percaya diri dengan jawabanku? Aku bingung ini materinya A, B, atau C.”

Mungkin teman-teman juga ada yang memiliki kendala yang sama. Di sini saya mencoba menjawab pertanyaan tersebut. Setelah mendapat pertanyaan itu, saya mencari beberapa sumber buku yang menjelaskan fenomena ini. Mengapa kita sudah belajar buku, mengerjakan soal, dan membahas materi, tapi saat ujian kita tidak yakin?

Saya menemukan satu buku berjudul “Make It Stick: The Science of Successful Learning”. Buku ini ditulis oleh seorang psikolog dan peneliti di bidang pendidikan bernama Peter C. Brown. Ia mencoba mempelajari dari hasil penelitian tentang cara belajar yang tepat itu seperti apa. Ternyata, isu tentang cara belajar yang tepat bukan hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di luar negeri.

Dari hasil penelitian Peter di bukunya, disebutkan bahwa belajar itu bukan tentang seberapa keras kita belajar. Artinya, mau kita mengerjakan 5 atau 10 buku pun sebenarnya tidak menjamin kita memahami materi. Ternyata, selain seberapa keras kita belajar, yang lebih penting adalah apakah cara belajar kita sudah tepat atau belum. Kalau cara belajar kita belum tepat, besar kemungkinan apa yang kita pelajari akan gagal saat ujian.

Berikut adalah empat poin penting dari buku tersebut yang bisa menjadi solusi bagi teman-teman:

1. Hindari SKS, Terapkan Space Repetition

Di Indonesia kita mengenal istilah SKS (Sistem Kebut Semalam). Saat mau ujian, baru belajar ngebut sebulan, seminggu, atau malah beberapa hari sebelumnya. Ternyata fenomena SKS ini juga menjadi budaya di Amerika dan Eropa.

Dari hasil penelitian Peter, belajar SKS sangat tidak disarankan karena cenderung membebani kerja otak. Kinerja otak dipaksa belajar cepat dan harus masuk, sehingga belajarnya menjadi tidak berkualitas. Belajar yang rutin itu lebih penting.

Jangan ada istilah “belajar kosong”. Misalnya Senin belajar 5 jam, Selasa libur, Rabu belajar, Kamis libur. Ternyata belajar 5 jam satu hari lalu besoknya libur, cenderung membuat otak tidak terlatih untuk mengingat materi. Lebih baik belajar tidak perlu 5 jam, cukup 1 jam atau bahkan setengah jam per hari, tapi rutin setiap hari. Siswa yang belajar rutin setiap hari, meskipun durasinya sebentar, mendapatkan nilai lebih tinggi ketimbang yang belajarnya bolong-bolong.

2. Teknik Retrieval Practice

Pernahkah teman-teman membaca buku lalu berpikir, “Oh, begini isinya,” dan merasa paham? Tapi apakah teman-teman benar-benar paham? Seringkali merasa tahu saja tidak cukup.

Cara efektif menurut buku ini adalah: selesai belajar satu materi atau satu bab, tutup bukunya, kemudian tulis ulang selama 5 sampai 10 menit apapun yang teman-teman ingat.

Entah itu rumusnya, polanya, soalnya, cara pengerjaannya, analisisnya, apapun. Peras otak sekeras-kerasnya. Setelah selesai menulis, baca lagi materi aslinya dan bandingkan dengan tulisan teman-teman. Kalau masih banyak yang belum masuk, pelajari lagi, tutup bukunya, dan tulis lagi.

Siswa yang belajar dengan metode Retrieval Practice ini mendapatkan nilai 50% lebih tinggi ketimbang mereka yang hanya belajar tanpa menulis ulang.

3. Terapkan Interleaving

Interleaving artinya jangan hanya belajar satu topik dalam satu waktu. Jika teman-teman belajar Bahasa Inggris selama satu jam, usahakan setengah jam belajar Tenses, setengah jam berikutnya Passive Voice.

Jangan satu hari hanya belajar Tenses saja. Mengapa? Karena mereka yang belajar satu topik saja cenderung mengalami kegugupan saat ujian. Saat ujian, soal tidak berurutan seperti di materi website. Soal ujian materinya acak; bisa tiba-tiba muncul Conjunction, lalu Idiom. Dengan terbiasa interleaving (menggabung minimal dua materi), otak teman-teman akan terlatih mengerjakan soal yang materinya acak.

4. Metode Generation

Generation adalah metode belajar di mana ketika menghadapi materi baru, jangan langsung belajar materinya, tapi coba kerjakan soalnya dulu.

“Kak, berarti nanti banyak salah dong?” Iya, memang itu poinnya. Kita pernah salah, kita pelajari, kita tahu salahnya di mana, baru kita kerjakan ulang soal yang tadi. Dari hasil penelitian, mereka yang mengerjakan soal dulu baru belajar materi mendapatkan nilai lebih tinggi.

Kesimpulannya, bagi teman-teman yang mungkin sudah mencoba bertahun-tahun tapi merasa ragu saat mengerjakan soal, mungkin yang salah bukan apa yang kalian pelajari, tapi caranya. Cobalah ubah cara belajar konvensional menjadi metode-metode di atas.

(Sedikit tambahan untuk tes psikolog: pendekatannya terbalik. Kita harus mengenali diri kita terlebih dahulu, baru mengikuti tes dan mengevaluasi).

Jadi, jangan berpikir cara belajar itu mutlak hanya satu. Kalau merasa cara sekarang tidak tepat, carilah cara lain. Cara yang tepat buat si A belum tentu sama dengan si B.


Masuk ke Materi: Adjective Clause

Sekarang kita lanjut ke materi inti kita, yaitu Adjective Clause.

Seperti yang pernah saya sampaikan, Adjective Clause (AC) ini sama seperti Tenses dan Passive Voice, yaitu materi yang tidak perlu diartikan. Karena tidak perlu diartikan, tantangannya adalah menemukan petunjuk soal.

Ada dua kemungkinan bentuk soal Adjective Clause di pilihan ganda:

  1. Di pilihan ganda (Pilgan) HANYA ada Adjective Clause. (Contoh soal nomor 1: opsinya hanya who, whose, whom, that).
  2. Di pilihan ganda TIDAK HANYA ada Adjective Clause, tetapi juga ada kata lain yang menyertainya. (Contoh soal nomor 20: opsinya which confuses, that confuse, dsb).

Cara menjawab kedua jenis soal ini berbeda. Berikut adalah langkah-langkah strategisnya:

Langkah 1: Identifikasi Bentuk Soal Lihat ABCD-nya. Jika ada kata who, which, that, dan sejenisnya, ini pasti soal Adjective Clause. Tentukan apakah itu “Hanya AC” atau “Tidak Hanya AC”.

Langkah 2: Lihat Sebelum Titik-Titik (Antecedent) Cek kata sebelum titik-titik, apakah dia:

  • A. Manusia: Nama orang, profesi (scientist, researcher, professor).
  • B. Non-Manusia: Hewan, benda, ide, fenomena.
  • Tempat: Rumah, area, wilayah.
  • Waktu: Hari, bulan, tahun, era, dekade.

Langkah 3: Tentukan Kemungkinan Jawaban

  • Jika Manusia: Kemungkinannya Who (alternatif: That), Whom (alternatif: That), atau Whose.
  • Jika Non-Manusia: Kemungkinannya Which (alternatif: That), atau Whose (untuk kepemilikan, alternatifnya of which). Update terbaru: Non-manusia sekarang diutamakan menggunakan Whose.
  • Jika Tempat: Pakai Where (alternatif: in which).
  • Jika Waktu: Pakai When (alternatif: on which).

Langkah 4: Cari Petunjuk Penting

  • Jika Hanya AC: Petunjuk penting ada tepat SETELAH titik-titik. Lihat apakah itu Verb (Predikat) atau Subject.
  • Jika Tidak Hanya AC: Petunjuk pentingnya ada SETELAH Adjective Clause-nya (di dalam opsi jawaban itu sendiri).

Langkah 5: Kombinasikan dengan Tenses Cari Adverb of Time (AOT) atau penanda waktu untuk menentukan bentuk kata kerjanya.

Mari kita bedah satu per satu aturannya dengan contoh soal.


A. Manusia (Human)

1. Penggunaan WHO

  • Pola: Manusia + WHO + Predikat (Verb).
  • Alternatif: THAT.

Contoh Soal Nomor 1: Opsi hanya AC. Sebelum titik-titik ada The scientist (Manusia). Setelah titik-titik ada has revolutionized (Verb/Predikat). Karena Manusia + Predikat, jawabannya adalah WHO. Jika tidak ada Who, pilih That. Jadi jawabannya A.

Contoh Soal Nomor 16: Opsi tidak hanya AC. Sebelum titik-titik ada The keynote speaker (Manusia). Karena tidak hanya AC, lihat kata di dalam opsinya. Ada kata arrive. Arrive adalah predikat. Manusia + Predikat = Who. Cek AOT: Ada kata yesterday (Past Tense). Maka cari verb bentuk kedua (arrived). Jawabannya kombinasi Who + Arrived.

Contoh Soal Nomor 2: Opsi hanya AC. Sebelum titik-titik Ancient human (Manusia purba tetap manusia). Setelah titik-titik show (Predikat). Jawabannya antara Who atau That. Di opsi hanya ada That. Jawabannya A.

2. Penggunaan WHOM

  • Pola: Manusia + WHOM + Subject + Predikat.
  • Alternatif: THAT.

Contoh Soal Nomor 3: Opsi hanya AC. Sebelum titik-titik The keynote speaker (Manusia). Setelah titik-titik The symposium organizers (ada The, berarti Subject). Manusia + Subject = WHOM. Tapi, kenapa bukan To whom (opsi C)? Khusus untuk Whom, boleh diikuti preposisi JIKA kata kerja setelahnya cocok dengan preposisi tersebut dan preposisinya belum ada di soal. Kata kerjanya adalah entrusted. Pasangannya adalah entrusted WITH, bukan entrusted TO. Lagipula, di soal sudah ada kata with. Jadi tidak boleh double preposisi. Maka jawabannya murni WHOM (Opsi A).

Contoh Tambahan: The woman … the man is talking is smiling at me. Kata kerja talking. Pasangannya talking TO. Maka jawabannya To whom. Kalau soalnya: The woman to … the man is talking, maka jawabannya cukup Whom karena to sudah ada di depan.

Contoh Soal Nomor 4: Sebelum titik-titik Doctoral candidate (Manusia). Setelah titik-titik The committee (Subject). Harusnya Whom. Tapi di opsi tidak ada Whom. Cari alternatifnya: THAT. Jawabannya E.

Contoh Soal Nomor 18: Opsi tidak hanya AC. Sebelum titik-titik Student (Manusia). Di opsi ada The committee (Subject). Maka cari pola Whom + Subject. Opsi B salah karena Whom diikuti has (Predikat). Opsi C salah karena Who diikuti Subject. Opsi E salah karena Which untuk benda. Jawabannya A (Whom the committee).

Contoh Soal Nomor 19: Opsi tidak hanya AC. Sebelum titik-titik The professor (Manusia). Di opsi ada The students (Subject Jamak). Cek AOT: Ada Two years ago (Simple Past). Tapi ada For + waktu (Perfect). Perhatikan konteks kalimat. Ada kata concluded (Past Tense). Subjek jamak (students) tidak bisa pakai has. Jadi coret opsi yang pakai has. Karena konteksnya lampau (Past), cari yang Past Perfect (had exhibited). Jawabannya E.

3. Penggunaan WHOSE

  • Pola: Manusia + WHOSE + Benda yang dimiliki.
  • Menyatakan kepemilikan.

Contoh Soal Nomor 5: Sebelum titik-titik Professor (Manusia). Setelah titik-titik research. Research bisa jadi Subjek, bisa jadi benda milik. Coba artikan: “Profesor yang penelitiannya…” vs “Profesor yang penelitian…”. Lebih tepat “Profesor yang penelitiannya”. Ini menyatakan kepemilikan. Maka jawabannya WHOSE (Opsi C).


B. Non-Manusia (Non-Human)

1. Penggunaan WHICH

  • Pola: Non-Manusia + WHICH + (Bisa Subject / Bisa Predikat).
  • Alternatif: THAT.
  • Enaknya Which ini fleksibel, bisa ketemu Subjek atau Predikat.

Contoh Soal Nomor 6: Opsi hanya AC. Sebelum titik-titik Experiments (Non-Manusia). Setelah titik-titik had been (Predikat). Jawabannya bisa Which atau That. Di opsi ada That. Jawabannya D.

Contoh Soal Nomor 20: Opsi tidak hanya AC. Sebelum titik-titik The theoretical model (Non-Manusia). Lihat kata di opsi: confuse (membingungkan/kata kerja). Jadi polanya Non-Manusia + Predikat. Cek AOT: Ada kata Always (Simple Present). Subjek tunggal (model), maka verb pakai s/es (confuses). Jawabannya E (which always confuses).

Contoh Soal Nomor 21: Sebelum titik-titik Experiment (Non-Manusia, Tunggal). Cek AOT: Yesterday (Simple Past). Cari yang Simple Past. Opsi yang pakai ing (A, B, D) salah karena Past butuh verb 2 atau was/were. Tersisa That conducted (Aktif: yang melakukan) vs That was conducted (Pasif: yang dilakukan). Eksperimen itu dilakukan atau melakukan? Dilakukan (Pasif). Jawabannya E.

2. Preposisi + WHICH Sama seperti Whom, Which boleh diawali preposisi jika kata kerjanya cocok.

Contoh Soal Nomor 10: Sebelum titik-titik Journal (Non-Manusia). Setelah titik-titik researchers (Subject). Kata kerjanya submit. Submit pasangannya submit TO. Karena di soal belum ada to, maka kita butuh To which. Jawabannya C.

3. Kuantitas (Quantifiers) Untuk menghindari pengulangan (redundancy) dalam kalimat majemuk.

  • Pola: Most of, Several of, Many of + WHOM (Manusia) / WHICH (Benda).

Contoh Soal Nomor 15: Sebelumnya ada The students (Manusia). Ada kata Several of… Kita tidak boleh pakai Several of them atau Several of the students lagi karena redundant (pengulangan) dalam satu kalimat. Gantilah dengan Adjective Clause. Karena manusia, pakai WHOM. Jawabannya C (Several of whom). Catatan: Jika kalimatnya dipisah dengan titik menjadi dua kalimat berbeda, baru boleh pakai “Several of them”.

4. Penggunaan WHOSE untuk Non-Manusia

  • Pola: Non-Manusia + WHOSE + Benda milik.
  • Sekarang Whose lebih diutamakan daripada of which untuk kepemilikan benda mati.

Contoh Soal Nomor 8: Sebelum titik-titik Biodiversity (Non-Manusia). Setelah titik-titik ecosystems. Artinya: “Keanekaragaman hayati yang ekosistemnya didokumentasikan”. Menyatakan kepemilikan. Jawabannya D (Whose).


C. Tempat dan Waktu

1. Tempat (Place)

  • Jika sebelum titik-titik adalah nama tempat (negara, kota, site, lab, area).
  • Pakai WHERE.
  • Alternatif: IN WHICH.
  • Catatan: Jangan pernah pilih “In where”.

Contoh Soal Nomor 11: Archaeological site (Tempat). Jawabannya WHERE (Opsi C).

Contoh Soal Nomor 12: Laboratory (Tempat). Di opsi tidak ada Where. Cari alternatifnya: IN WHICH. Jawabannya D.

2. Waktu (Time)

  • Jika sebelum titik-titik adalah waktu (hari, tahun, era, dekade).
  • Pakai WHEN.
  • Alternatif: ON WHICH (biasanya untuk hari/tanggal) atau preposisi lain yang sesuai (in which untuk tahun).

Contoh Soal Nomor 13: The era (Waktu). Jawabannya WHEN (Opsi D).

Contoh Soal Nomor 14: The day (Waktu). Tidak ada When. Hari (Day) pasangannya preposisi On. Maka alternatifnya ON WHICH. Jawabannya D. Catatan: Jangan pilih “On when”.


Penutup dan Tantangan Belajar

Jadi kesimpulannya, saat mengerjakan soal Adjective Clause, ingatlah 5 langkah tadi. Perhatikan apakah itu manusia atau bukan, lihat apa yang mengikutinya (Subjek/Predikat), dan cek konteks kalimatnya.

Untuk karakter fiksi seperti soal tentang “Hawk-eye” (karakter), tetap dianggap Manusia karena dia adalah orang, bukan benda. Jadi gunakan aturan manusia (Who/Whom).

Sebagai penutup, saya ingin menantang teman-teman. Setelah kelas ini selesai, coba alokasikan waktu 5 sampai 10 menit. Ambil kertas atau ketik di HP/Laptop. Tuliskan ulang apa saja yang kalian pelajari hari ini dari awal sampai akhir.

Ibaratnya, maksimalkan otak kalian. Apapun yang kalian ingat itu valid. Setelah itu, bandingkan dengan catatan atau rekaman ini. Cara ini memaksa otak bekerja ekstra dan membuat memori kalian lebih optimal, sesuai dengan prinsip Make It Stick. Jika cara ini berhasil membuat kalian ingat materi sampai beberapa hari ke depan, berarti ini adalah cara belajar yang paling tepat buat kalian.

Terima kasih teman-teman, selamat beristirahat.


This file is located at: _chapters/210-tbi-transkrip/030-adjective-clause.md